NILAI – NILAI MANAJERIAL DAN KEPENDIDIKAN DALAM URUTAN TURUN SURAT DAN URUTAN SURAT DALAM MUSHAF AL-QUR’AN

Oleh: Tony Zakariya, SAg.MSI.
Pendahuluan
Agama Islam, agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta kaum Muslimin di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai sendi-sendi utama yang esensial: berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk menuju jalan yang sebaik-baiknya” (QS 17 : 9).
Al-Qur’an tidak hanya memberi petunjuk dalam persoalan-persoalan aqidah, syari’ah, dan akhlak saja tetapi al-Qur’an juga memberi petunjuk dalam semua persoalan pengikutnya, termasuk di dalamnya adalah persoalan mengenai kependidikan dan manajerial. Walaupun secara operasional tidak dituliskan sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya, tetapi Allah melalui Al-Qur’an-Nya meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan tersebut. Allah memerintahkan kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan mempelajari Al-Qur’an: “Tidaklah mereka memperhatikan isi Al-Qur’an, bahkan ataukah hati mereka terkunci .” (QS 47 : 24)
Kepemimpinan dan pendidikan adalah dua hal yang saling terkait. Seorang pemimpin haruslah seorang yang selalu belajar, sebab orang yang dipimpinnya tidaklah selalu sama dalam setiap masa. Seorang pemimpin harus bisa memahami perkembangan orang yang dipimpinnya dalam mengarahkanya, memompa semangatnya dan tetap menjadi suri tauladan bagi orang yang dipimpinnya. Secara singkat kepemimpinan membutuhkan pendidikan Sementara pendidikan juga amat membutuhkan kepemimpinan. Dalam proses belajar mengajar di dalam kelas sorang guru tidaklah cukup hanya menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkannya saja, tetapi disamping bisa menyampaikan dengan baik harus pula mampu memimpin murid yang diajarnya. Sebab tanpa kepemimpinan yang baik, suasana belajar mengajar di dalam kelas tidak akan mampu menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar. Begitu pula dalam sebuah lembaga pendidikan, tidak akan berkembang dengan baik bila tidak ada seorang pemimpin yang baik.
Al-Qur’an sebagai sumber hukum pertama dan utama bagi umat Islam, telah menjamin bahwa di dalamnya dijelaskan ayat- ayatnya dengan terperinci
       
Alif, laam, raa. (Surat) Ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Quran yang memberi penjelasan. (QS 15 : 1)

                •      •   
Maka patutkah Aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal dialah yang Telah menurunkan Kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? orang-orang yang Telah kami datangkan Kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.(QS 6 : 114)

Ayat-ayat diatas mengandung maksud bahwa di dalam al-Qur’an terdapat segala sesuatu yang kita butuhkan. Karena seluruh hidup kita dan lingkungan kita bukan lain adalah ayat-ayat Allah pula. Walaupun kebanyakan ahli membagi ayat-ayat Allah dengan dua macam yaitu ayat kitabiah dan ayat kauniyah, pemakalah kurang sependapat dengan hal ini karena pada dasarnya al-Quran telah memuat semuanya. Adapun bentuk yang terlihat di depan mata kita adalah hanya bentuk-bentuk variasinya. Dengan pendapat ini maka dapat dipastikan bahwa masalah kepemimpinan dan kependidikan juga ada dalam kitab suci al-Qur’an. Hanya saja, menjadi tugas kita untuk mencarinya.dan kerana kelemahan kita, serta kebodohan kita terkadang ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah yang sedang kita hadapi tidak kita temukan dalam kita al-Qur’an.
Kepemimpinan dan kependidikan, merupakan dua hal yang amat penting diperlukan dan dibutuhkan bagi perkembangan manusia di dunia. Bahkan seorang manusia utama setingkat Nabi Muhammad saw. Pun membutuhkan kepemimpinan dan kependidikan ini. Hanya saja yang memimpin dan mendidik Nabi Muihammad adalah Allah sendiri, dengan pendidikan dan kepemimpinan yang kemungkinan besar kita sebagai manusia biasa tidak akan kuat untuk menerimanya. Sedangkan Nabi Muhammad sekalipun berkata kepada sahabatnya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah ?”. seperti disebutkan dalam ayat berikut ini
    •   •      •               •    
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat(QS 2 : 214)

Dalam makalah ini pemakalah mencoba mencari nilai-nilai kepemimpinan dan kependidikan yang terdapat dalam al-Qur’an yang kemungkinan besar masih jauh dari kebenaran yang sesungguhnya, tetapi pemakalah berharap makalah ini mampu memancing para pembaca sekalian untuk mencari lebih lanjut lagi dalam al-Qur’an.

Pengertian
Nilai – nilai managerial maksudnya adalah nilai – nilai yang berhubungan dengan kepemimpinan. Dan seorang pemimpin harus memiliki power ‘pengaruh’ baik power eksekutif (yaitu pengaruh yang dapat menimbulkan charisma dan wibawa), power legislatif maupun power pembuat keputusan. sedangkan Pendidikan artinya usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan Negara. Atau secara singkat pendidikan adalah usaha sadar untuk maju.
Jadi judul makalah diatas bermaksud untuk menggali nilai-nilai atau pelajaran kepemimpinan melalui proses sadar dan terencana, yang terdapat dalam urutan turunnya surat dan dalam urutan surat yang tertulis dalam mushaf Al-Qur’an.
Dalam pembahasan ini pertama-tama akan kita kaji pengaruhnya secara langsung kepada orang pertama yang menerima Al-Qur’an yaitu Nabi Muhammad dan selanjutnya kepada sahabat dan kita semua.
Pembahasan ini menggunakan back ground tempat turunnya Al-qur’an yaitu di Makkah dan di Madinah.
Sedangkan rentang waktu kajian ini adalah selama turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad yaitu kira-kira 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Lalu permasalahan kita adalah apakah ada nial-nila manajerial dan kependidikan dalam turunnya surat?, dan apakah juga ada nilai-nilai manajerial dan kependidikan dalam urutan surat yang terdapat dalam mushaf Al-Qur’an?.
Metodologi yang dikembangkan dalam melakukan studi al-Qur’an ini, didasarkan atas beberapa asumsi dasar. Pertama, al-Qur’an sebuah kitab yang berisi susunan sandi (lambang) dan simbol. Dengan kata lain, al-Qur’an berisi bahasa sandi, dan bukan hanya semata-mata bahasa bunyi. Kedua, semua surat dala al-Qur’an, dari surat ke-1 (al-Fatihah) sampai ke-114 (an-Nass) merupakan gambaran tentang perjalanan hidup dan eksistensi manusia. Ketiga, manusia dan alam semesta dua varian dalam satu eksistensi. Alam semesta ada dalam diri manusia, dan sebaliknya manusia merupakan bagian dari unsur kosmik.

Urutan Turun Surat Al-Qur’an
Membicarakan urutan turun surat al-Qur’an, tidak bisa melepaskan diri dar membicarakan sejarah turunnya al-Qur’an. Sejarah turunnya al-Qur’an dibagi dalam tiga periode, agar lebih jelas tujuan-tujuan pokok al-Qur’an: Periode pertama, Kandungan wahy Allah SWT berkisar dalam tiga hal yaitu: (a) Pendidikanbagi Raulullah SAW, dalam membentuk kepribadiaanya (QS. 74: 1-7), (b) Pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai ke Tuhanan (QS. 87 dan 112), dan (c) Dasar-dasar akhlak Islamiyyah dan pembentukan masyarakat Muslim.
Periode ini berlangsung sekitar 4 sampai 5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab terhadap al_Qur’an ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok: (a) Sebagian kecil dari mereka menerima dengan baik, (b) Sebagian besar menolaknya karena kebodohan mereka (QS. 21 : 24), keteguhan mereka mempertahankan adat –istiadat dan tradisi nenek moyang (QS. 43 : 22), dan atau karena maksud-maksud tertentu dari satu golongan, dan (c) bahwa al-Qur’an mulai melebar melampoi perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.
Periode kedua, berlangsung selama 8-9 tahun, di mana ayat-ayat al-Qur’an telah sanggup memblokade paham jahiliyah dari segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam alam pikiran sehat (QS. 16 : 125), (QS. 41: 13), (QS. 36 : 78-82).
Periode ketiga, pada masa ini dakwah al-Qur’an telah mencapai atau mewujudkan prrestasi yang sangaat besar. Periode ini berlangsung selama 10 tahun. Ini merupakan periode yang terakhir, Islam telah disempurnakan oleh Allah SWT, dengan turunnya ayat yang terakhir, Surat al-Maidah ayat 3 (ayat tentang hukum), Ketika Rasulullah wukuf pada Haji Wada’ pada tanggal 9 Zulhijjah 10 H atau 7 Maret 632 M. Dan ayat terakhir turun secara mutlak, surat al-Baqarah ayat 281, sehingga dari ayat pertama kali turun sampai yang terakhir kalinya memakan waktu 22 tahun.
Diakui secara umum bahwa susunan ayat dan surat dala al-Qur’an memiliki keunikan yang luar biasa. Susunannya tidak secara urutan saat wahyu diturunkan dan subyek bahasannya pun terkesan meloncat-loncat. Rahasianya hanya Allah yang Maha Tahu, karena dia sebagai pemilik kitab tersebut. Jika seseorang akan bertindak sebagai editor menyusun kembali kata-kata buku orang lain misalnya, mengubah urutan kalimat akan mudah mempengaruhi seluruh isinya. Hasil akhir tidak dapat diberikan pada pengarang karena hanya sang pencipta yang berhak mengubah kata-kata dan materi guna menjaga hak-haknya.
Dari beberapa perawi yang meriwayatkan urutan turun surat terdapat sedikit perbedaan, diantaranya yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Al-Kafi, Ikrimah dan Al-Hasan, Muhammad Ibnu Nu’man Ibnu Basyir, Abi Thalkah dan Qatadah, urutan turun surat versi Mesir. Juga para sarjana barat tak ketinggalan menyusun urutan turun surat seperti Weil, Noeldeke-Schwallf dan Blachere, versi Muir dan versi Grimme. Misalnya menurut Ibnu Abbas dan al-Kafi Surat Yasin turun pada urutan surat ke 40, sementara menurut Ikrimah dan al-Hasan Surat Yasin turun pada urutan surat yang ke 39. Atau menurut Ibnu Abbas dan al-Kafi Surat Yusuf turun pada urutan Surat yang ke 52, sementara menurut Ikrimah dan al-Hasan surat Yusuf turun pada urutan Surat yang ke 50.
Dalam makalah ini kita tidak akan berpanjang lebar membahas mana yang lebih benar, tetapi kita hanya akan mengambil satu riwayat yang cukup terkenal yaitu riwayat Ibnu Abbas. Karena memang kajian kita harus lebih banyak mencari nilai-nilai manajerial dan kependidikan dalam urutan turun surat Al-Qur’an.

Urutan turun surat menurut Ibnu Abbas:
1. Al-Alaq
2. Al-Qalam
3. Al-Muzzammil
4. Al-Mudatsir
5. Al-Lahab
6. Al-Takwir
7. Al-A’la
8. Al-Lail
9. Al-Fajr
10. Al-Dhuha
11. Al-Insiroh
12. Al-Ashr
13. Al-‘Adiyat
14. Al-Kautsar
15. Al-Takatsur
16. Al-Ma’un
17. Al-Kafirun
18. Al-fiil
19. Al-Falaq
20. An-Naas
21. Al-Ikhlas
22. An-Najm
23.‘Abasa
24. Al-Qadar
25. As-Syams
26. Al-Buruj
27. At-Tien
28. Al-Quraisy
29. Al-Qori’ah
30. Al-Qiyamah
31. Al-Humazah
32. Al-Mursalat
33. Qoof
34. Al-Balad
35. At-Thariq
36. Al-Qamar
37. Shood
38. Al-‘Araf 39. Al-Jinn
40. Yaasin
41. Al-Furqon
42. Al-Fathir
43. Maryam
44. Thaaha
45. Al-Waqi’ah
46. As-Syu’araa
47. An-Naml
48. Al-Qashash
49. Al-Israa
50. Yunus
51. Hud
52. Yusuf
53. Al-Hijr
54. Al-An’am
55. As-Shaaffat
56. Luqman
57. Saba
58. Az-Zumr
59. Al-Mu’min
60. Hamim Sajdah
61. As-Syura
62. Az-Zukhruf
63. Ad-Dukhan
64. Al-Jatsiah
65. Al-Ahqaf
66. Ad-Dzariat
67. Al-Ghasyiah
68. Al-Kahfi
69. An-Nahl
70. Nuh
71. Ibrahim
72. Al-Anbiya
73. Al-Mu’minun
74. As-Sajdah
75. At-Thur
76. Al-Mulk
77. Al-Haqqah
78. Al-Ma’arij
79. An-Naba’
80. An-Nazi’at
81. Al-Infithar
82. Al-insyiqaq
83. Ar-Rum
84. AL-‘Ankabut
85. Al-Tathfif
86. Al-Baqarah
87. Al-Anfal
88. Ali Imran
89. Al-Ahzab
90. Al-Mumtahanah
91. An-Nisaa
92. Az-Zilzal
93. Al-Hadid
94. Al-Qital
95. Ar-Ra’ad
96. Ar-Rahman
97. Ad-Dahr
98. At-Thalaq
99. Al-Bayinah
100. Al-Hijr
101. An-Nasr
102. An-Nur
103. Al-Haj
104. Al-Munafiqun
105. Al-Mujadalah
106. Al-Hujurat
107. At-Tahrim
108. As-Shaf
109. Al-Jum’ah
110. At-Taghobun
111. Al-Fath
112. Al-Maidah
113. At-Taubah
114. ?? (Al-Fatehah)

Surat yang pertama turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Ayat ini telah banyak dibahas orang, dengan variasi pembahasan yang luas diantaranya menurut Muhammad Amin Suma, ayat pertama di atas menyiratkan urgensi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) melalui simbol perintah membaca (studi), Imam Muchlas mengatakan bahwa ayat pertama ini menjelaskan tentang manusia dengan akal fitrah yang dimilikinya, selalu melakukan pemahaman dan penafsiran terhadap lingkungannya guna dapat mengambil tindakan dan langkah yang dirasa tepat dan terbaik. Hal ini dilakukan dalam usaha manusia beradabtasi dengan alam, dengan suatu tujuan agar dapat tetap menjaga kelangsungan hidupnya dan memenuhi kebutuhannya, serta dapat hidup dengan lebih baik.
Subhi as-Salih mengatakan: dalam surat al-‘Alaq, terdapat gambaran hidup tentang peristiwa terbesar dalam sejarah umat manusia yang disaksikan oleh manusia sendiri. Suatu peristiwa yang melahirkan manusia baru, yang menghubungkan umat manusia dengan “langit” beserta semua rahasianya, dan tidak melekatkannya dengan bumi beserta lumpur-lumpurnya. Bagian permulaan surat ini ditujukan langsung kepada Muhammad Rosulullah saw dan menghubungkan beliau dengan malaikat yang mengajar beliau dengan nama Allah, agar membaca. Dialah segala sumber yang ada dan kepada-Nya jualah segala sesuatu pasti kembali. Dialah yang memuliakan manusia dengan mengajarkan kepadanya berbagai rahasia alam wujud, dan memberi kesanggupan kepada manusia untuk dapat menggunakan al-Qalam (alat tulis)sebagai lambang ilmu pengetahuan dan pengajaran. Padahal Dia, Allah, menciptakan manusia dari sesuatu yang rendah dan hina, dari darah beku (‘alaq) yang bergelantung pada rahim, tempat yang aman dan kokoh.
Jadi ayat ini memerintahkan Nabi untuk membaca semua yang diciptakan Allah. Termasuk manusia yang diciptakan dari segumpal darah. Dan selanjutnya diperintahkan pula untuk membaca lebih banyak lagi agar mengetahui Tuhan yang Maha Pemurah. Diantaranya telah mengajarkam kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Nilai manajerial dan kependidikan yang terkandung didalamnya adalah; Dalam mencapai tujuan yang diinginkan , orang harus melakukan pengamatan, observasi, penelaahan dan penelitian secara mendalam.
Surat selanjutnya adalah surat Nun atau surat Al-Qalam yang berisi pujian, memompa semangat dan menghilangkan keraguan serta meyakinkan Muhammad tentang kebenaran tugas yang diterimanya.
Nilai manajerial dan kependidikan yang terkandung didalamnya adalah: Sebelum memberi tugas seseorang perlu diketahui terlebih dahulu kelebihan dan kekurangannya. Lalu diberitahukan kepadanya kelebihan yang dimilikinya untuk memompa semangatnya dalam mengerjakan tugas
Selanjutnya turun surat Al-Muzamil yang berisi tentang apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri.
Mengandung nilai pembekalan, agar siap menerima tugas yang berat.
Lalu turun surat Al-Mudatsir yang berisi perintah atau tugas yang harus segera dilakukan.
Mengandung nilai Teknis yang harus dilakukan dilapangan dan materi tugas yang harus dilakukan.
Surat Al-Lahab berisi tentang celaan Allah terhadap Abu Lahab dan istrinya.Mengandung niali dukungan seorang pemimpin kepada anak buah atu wakilnya yang tertekan di dalam menjalankan tugas pertamanya.
Surat At-Takwir berisi tentang cerita hari qiamat yang sangat dahsyat dan legitimasi allah terhadap Rasulnya. Mengandung nilai: Sosialisasi Kekuasaan pemimpin kepada semua orang yang terkait juga sosialisasi legitimasi pemimpin kepada wakilnya.
Surat Al-‘ala berisi tentang perintah mensucikan Allah yang maha Tinggi dan tambahan alat untuk mempermudah dalam mrnjalankan tugas. Mengandung nilai Menyatukan visi dan misi serta tambahan alat untuk mempermudah dalam menjalankan tugas.
Dan Surat lainnya silahkan lanjutkan sendiri di rumah

Urutan Surat dalam Mushaf Al-Qur’an
Berbicara mengenai urutan surat dalam mushaf al-Qur’an ini, ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa urutan surat ini adalah ijtihad khalifah Usman bin Affan. Seperti yang diungkapkan oleh al-Ya’kubi, “Utsman mengkodifikasikan al-Qur’an, menyusun (allafa) dan mengumpulkan surat-surat panjang dengan suraat-surat panjang dan surat-surat pendek dengan surat-surat pendek”. tetapi mayoritas umat Islam berpendapat bahwa susunan mushaf al-Qur’an adalah murni dari Allah melalui malaikat jibril kepada Nabi Muhammad yang dibukukan dan diperbanyak oleh kholifah Utsman bin Affan.
Sejarah penyusunan mushaf al-Qur’an ini dapat dilihat dalam hadis shahih Bukhari sebagai berikut:
Hudzaifah ibn al-Yaman menghadap Utsman. Ia tengah memimpin penduduk Siria dan Irak dalam suatu ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan. Hudzaifah merasa cemas oleh pertengkaran mereka (penduduk Siria dan Irak) tentang bacaan al-Qur’an. Maka berkatalah Hudzaifah kepada Utsman: “Wahai Amir al-Mu’miniin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka bertikai tentang Kitab (Allah), sebagaimana yang telah terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani pada masa lalu”. Kemudian Utsman mengirim surat kepada Hafshah dengan pesan: “Kirimkanlah kepada kami shuhuf yang ada di tanganmu, sehingga bisa diperbanyak dan disalin ke dalam mushaf-mushaf, dan setelah itu akan dikembalikan kepadamu”. Hafshah mengirim shuhufnya kepada Utsman, yang kemudian memanggil Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin al-‘Ash, dan Abdur Rahman bin al-Haris bin Hisyam. Lalu memerintahkan mereka untuk menyalinnya menjadi beberapa Mushaf. Utsman berkata kepada tiga orang Quraisy (dalam tim itu): “Jika kalian berbeda pendapat dengan Zaid mengenai al-Qur’an, maka tulislah dalam dialek Quraisy karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka”. Mereka mengikuti perintah itu, dan stelah berhasil menyalin shuhuf itu menjadi beberapa mushaf, Utsman mengembalikan shuhuf tersebut kepada hafsah. Mushaf-mushaf salinan yang ada kemudian dikirim Utsman ke setiap propinsi dengan perintah agar setiap dengan perintah agar seluruh rekaman tertulis al-Qur’an yang ada – baik dalam bentuk fragmen atau kodeks – dibakar habis.
Al-Zuhri menambahkan, Kharijah Ibnu Zaid mengatakan kepadanya bahwa ia mendengan Zaid Ibn Tsabit berkata: “Terlupakan oleh saya sebuah ayat dari surat al-Ahzab ketika kami menyalin al-Qur’an, dan saya sering mendengan Rasulullah membacanya. Kami mencarinya dan menemukannya pada Khuzaimah ibn Tsabit al-Anshari, (yaitu surat 33 : 23). Kemudian kami memasukkannya ke dalam tempat yang tepat di dalam surat itu.
Urutan Surat dalam Mushaf Usmani adalah sebagai berikut:
1. Al-fatihah
2. Al-Baqarah
3. Ali Imran
4. An-Nisa’
5. Al-Ma. Al- idah
6. Al-An’am
7. Al-‘Araf
8Anfal
9. At-Taubah
10. Yunus
11. Hud
12.Yusuf
13.Ar-Ra’ad
14.Ibrahim
15.Al-Hijr
16.An-Nahl
17. Al-Israa’
18.Al-kahfi
19.Maryam
20.Ta ha
21. Al-Anbiya’
22.Al-Hajj
23.Al-Mu’minun
24.An-Nur
25.Al-Furqon
26.Asy-Syu’ara’
27.An-Naml
28.Al-Qosos
29.Al-Ankabut
30.Ar-rum
31.Luqman
32.As-Sajdah
33.Al-Ahzab
34.Saba’
35.Fatir
36.yasin
37.As-saffat
38.Saad 39.Az-zumar
40.Al-Mu’min
41.Ha’ Mim As-Sajdah
42.Asy-Syura’
43.Az-Zukhruf
44.Ad-Dukhan
45.Al-Jasiyah
46.Al-Ahqof
47.Muhammad
48Al-Fath
49.Al-Hujurat
50.Qof
51.Az-Zariyat
52.At-Tur
53.An-Najm
54.Al-Qamar
55.Ar-Rahman
56.Al-Waqi’ah
57.Al-Hadid
58.Al-Mujadilah
59.Al-Hasr
60.Al-mumtahanah
61.As-Saff
62.Al-jumu’ah
63.Al-Munafiqun
64.At-Taghobun
65.At-Talaq
66.At-Tahrim
67.Al-mulk
68.Al-Qalam
69.Al-Haqqah
70.Al-Ma’arij
71.Nuh
72.Al-Jin
73.Al-Muzamil
74.Al-Mudatsir
75Al-qiyamah
76.Ad-Dahr 77.Al-Mursalat
78. An-Naba’
79. An-Nazi’at
80. ‘Abasa
81. At-Takwir
82. Al-Infithar
83. Al-Mutaffifin
84. Al-Insiqoq
85. Al-Buruj
86. Ath-Thariq
87. Al-A’la
88.Al-Ghosiyah
89.Al-Fajr
90.Al-Balad
91.Asy-Syams
92.Al-Layl
93.Ad-Duha
94.Al-Insyirah
95.At-tin
96.Al-‘Alaq
97.Al-Qadar
98.Al-Bayinah
99.Az-Zilzal
100.Al-Adiyat
101.Al-Qori’ah
102.At-Takatsur
103.Al-‘Asr
104.Al-Humazah
105.Al-Fil
106.Quraisy
107.Al-Maun
108.Al-Kawsar
109.Al-kafirun
110.An-Nasr
111.Al-lahab
112.Al-Ikhlas
113.Al-Falaq
114.An-Nas

Dimulai dengan Surat Al-Fatehah artinya pembuka. Mengandung nilai bila akan memulai segala sesuatu harus dimulai dengan pembukaan terlebih dahulu.
Lalu Surat Al-Baqarah berisi tentang pembenahan Aqidah, mentauhidkan Allah Kaitannya dengan Syari’ah dengan melihat keadaan diri sendiri (introspeksi).
Surat Ali Imran, setelah berhasil mempelajari diri sendiri, tantangan selanjutnya adalah mempelajari keluarga. Dilanjutkan dengan mempelajari sifat-sifat manusia yang terdapat dalam surat An-Nisa, karena 80% sifat-sifat manusia ada pada wanita.
Bila telah mampu menguasai diri, keluarga dan sifat-sifat manusia tentu ia tidak akan banyak ribut, tenang dalam rumah tangga hingga Allah perlu memberi hadiah yang berupa hidangan (S. Al-Ma’idah).
Selanjutnya bila tetap istiqomah dalam menjaga ketenangannya maka dengan hadiah yang banyak tentu ia akan mulai berinfestasi yang disimbulkan dengan binatang ternak (S. Al-An’am).
Bila infestasinya terus berkembang dia akan terpandang di mata masyarakat. Martabatnya makin tinggi hingga mendapat tempat yang tinggi (S.Al-‘Araf). Tapi perlu diingat orang yang berada di tempat tinggi sangat rentan untuk jatuh.
Metode yng diberikan Allah dalam Al-Qur”an agar tidak mudah jatuh adalah dengan memperbanyak Shadaqoh. Karena ia bisa menghilangkan bala’, rasa sombong dan menimbulkan empati pada kaum lemah. Selalu ingat bahwa kedudukan dan kemuliaan yang ia peroleh hanya sekedar titipan Allah yang sewaktu-waktu diambil oleh yang punya. Dalam keadaan ini posisi orang ini adalah seperti posisi orang yang sedang ramai-ramainya berperang, jika ia mampu mengalahkannya maka ia akan memperoleh harta rampasan perang (S. Al-Anfal).
Setelah mendapat harta rampasan perang, dilanjutkan dengan terus membersihkan diri baik harta, jasad dan jiwanya dengan cara bertaubat (S.At-Taubah). Agar terpilih seperti para Rasul (S. Yunus) Dengan belajar kepemimpinan (S.Hud) Namanya mulai dibicarakan orang yang membawa kabar. (S. Yusuf) Orang ini mulai disukai kaumnya terutama para wanita. Posisinya atau martabatnya terus naik, untuk menjadi orang terdekatnya Allah (S. Ibrahim) dan pendiriannya juga harus kuat dank eras seperti batu karang (S. Al-Hijr) Hingga ia memperoleh madu.(S. An-Nahl)
Untuk mendapatkan itu semua orang perlu melakukan perjalanan spiritual terutama perjalanan di malam hari. (S. Al-Isra”). Agar sampai tingkat puncak perjalanan, ia harus banyak merenung (S Al-Kahfi). Lalu mengingat-ingat awal kejadian kita dari mana (S. Maryam) lihat dan contoh perjalanan para nabi, yang akibatnya diantaranya adalah mulai dijauhi teman-teman biasanya, tetapi mendapat ganti orang-orang yang sudah diangkat derajatnya oleh Allah, (S Thaha) dan bila keadaan tersebut terus dipertahankan maka iapun akan diangkat derajatnya oleh Allah hingga mencapai derajat para Nabi (Al-Ambiya’) yang menjadi kekasih Allah.
Sebagai kekasih Allah, yang lebih banyak diingat adalah bekal untuk bertemu dengan Allah, dengan cara menyempurnakan ibadah-ibadah (S.Al-Hajj) dan mulai menunjukkan sikap-sikap sebagai orang yang benar-benar haqul yakin percaya kepada Allah (S. Al-Mu’min) hingga ia mendapat cahaya (S.An-Nur) yang dengan cahaya itu ia mampu membedakan yang haq dengan yang bathil (s Al-Furqon). Dan karena kemampuannya itu ia mulai diundang untuk mengisi seminar-seminar, yang banyak diperlukan pendapat-pendapatnya dalam bermusyawarah (S. As-Syura).
Dalam mengembangkan gagasan-gagasannya diperlukan adanya kerja kelompok atau tim work (S. An-Naml), seperti ulama-ulama yang terkenal sekarang ini, ternyata semuanya mempunyai tim work yang hebat hingga mampu mempromosikan ulama’nya sampai tingkat internasional. Sebaliknya ulama’ yang tidak mempunyai tim work, walaupun ulama’ tersebut tingkatanya disisi Allah lebih tinggi dari para ulama’ yang terkenal diatas, ia tidak akan bisa berkembang.
Seperti apa yang dilakukan ulama’-ulama’ tadi adalah banyak menceritakan pengalaman hidupnya (S. Al-Qosos) dan membuat jaringan usaha (net work) baik dalam bidang agama maupun dunia (S. Al-Ankabut) hingga menguasai pasar dan terus berekspansi (S. Rum).
Untuk melestarikan apa yang telah ia usahakan diperlukan adanya pewaris-pewaris yang tangguh dengan cara meregenerasi (S. Luqman) untuk dipersiapkan agar para pewaris ini juga termasuk orang-orang yang bersujud (S. As-Sajadah) dan seterusnya hingga di simpulkan dalam surat-surat juz ‘Amma. Yang ditutup dengan kesimpulan akhir sebagai manusia (S. An-Nas)

Penutup
Kepemimpian dan kependidikan adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain, kepemimpinan tidak akan berkembang tanpa kependidikan dan kependidikan tidak pula bisa berkembang tanpa kepemimpinan.
Rosulullah adalah suri tauladan yang baik dalam segala hal, beliau dididik dan dipimpin langsung oleh Allah dengan melalui perantaraan malaikat Jibril yang memberikan wahyu-wahyu Allah kepada Nabi Muhammad dalam bentuk kalimat-kalimat. Yang sekarang sampai dihadapan kita dalam bentuk tulisan-tulisan yang tertuang dalam sebuah Mushaf al-Qur’an.
Hasil kepemimpinan dan pendidikan Allah terlihat dalam diri Nabi Muhammad yang menjadi manusia paripurna, yang sekaligus nabi Muhammad mampu pula memimpin dan mendidik para sahabatnya hingga menjadi manusia utama. Dan para sahabat inipun meneruskan kepemimpinan dan pendidikan kepada para tabi’in dan seterusnya sampai kepada kita. Dengan satu pedoman yaitu al-Qur’an dan sunah rasul.
Rasulullah benar-benar memahami dan mengamalkan setiap kalimat yang sampai kepadanya. Walaupun dalam pelaksanaanya unsur kemanusian rasulullah juga terlihat, seperti salah, lupa, mengeluh dan sakit. Tetapi semuanya itu hanya merupakan proses awal yang selanjutnya tidak beliau ulang lagi dan selanjutnya semakin memperteguh keimanannya kepada Allah. Rasulullah terus mengamalkan al-Qur’an dengan sekuat tenaga hingga akhir hayatnya. maka tidak salah bila beliau dikatakan sebagai al-Qur’an yang hidup.
Al-Qur’an adalah bukti sejarah kepemimpinan dan pendidikan Allah kepada Nabi Muhammad . Yang tentu saja apa yang terbaik bagi Nabi Muhammad terbaik pula bagi umat manusia.
Urutan turun surat adalah bukti kepemimpinan dan kependidikan Allah kepada nabi Muhammad. Sedangkan urutan surat dalam mushaf al-Qur’an adalah bukti kepemimpinan Nabi Muhammad kepada para sahabatnya dan kita semua.
Ternyata baik urutan turunya surat maupun urutan surat dalam mushaf Al-Qur’an terdapat banyak nilai-nilai manajerial dan kependidikan yang sebagian diantaranya sudah coba penulis kemukakan dalam makalah di atas. Dimana semua nilai-nilai manajerial dan kependidikan tadi bertujuan untuk membentuk manusia paripurna yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, agama dan bangsanya.
Kritik, saran dan masukan sangat kami harapkan dari pembaca sekalian . Mudah-mudahan ada sedikit manfaat yang bisa kita ambil dari makalah ini. Aamiin

DAFTAR PUSTAKA
Ali Muhammad Taufiq, Praktek Manajemen Berbasis Al-Qur’an Jakarta, Gema Insani, 2004

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Depag RI, 1985

———–, Al-Aliyy. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung: CV. Diponegoro, 2000

Imam Muchlas, al-Qur’an Berbicara Kajian Konstektual Beragam persoalan Surabaya, Pustaka Progresif, 1996

Jalaluddin as-Suyuti asy-Syafi’I, al-Itqon fi ‘Ulumi al-Qur’an Beirut, Darul Fikri, 119 H

John M Echols dan Hasan sadeli, kamus inggris Indonesia, Jakarta, P.T. Gramedia, 1984

Tim Redaksi Fokus Media, Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. Sisdiknas Bandung, Fokus Media, 2006

Lukman Saksono dan Anharuddin, Pengantar Psikologi al-Qur’an demensi Keilmuan di Balik Mushaf Utsmani Jakarta, Grafikatama Jaya, 1992

M. M. al-A’zami, The History The Qur’anic Tex from Revelation to Compilation (terj) Jakarta, Gema Insani, 2005

M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Qur’an (Bandung, Penerbit Mizan, 1998),

Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogyakarta, Dana Bhakti Prima Yasa, 2003

Munawir Khalil, dalam Al-Qur’an dari Masa ke Masa, Semarang, Ramadhani, 1952

M. Hasbi Ash Shiddieqy, dalam Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Jakarta, Bulan Bintang,1987

Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an (1) Jakarta, Pustaka Firdaus, 2000

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: